
Cepu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, dengan berbagai destinasi wisata, kuliner, seni dan budaya serta kearifan lokal dan sumber daya alam yang melimpah. Terletak di sebelah barat Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur dan di sebelah selatan Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Cepu menjadi suatu kota dengan kepadatan penduduk dan keramaian yang sama, seperti di kota-kota besar nusantara lainnya.
Desa ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kota Raja dari Kerajaan Jipang, pada abad ke-15 sebagai bagian dari Kerajaan Majapahit, lalu menjadi Kerajaan Vasal atau kerajaan yang kekuasaannya berada di bawah kerajaan dari Kerajaan Demak atau lebih di kenal dengan sebutan Kadipaten Jipang.
Di sepanjang jalan di Desa Jipang, nyala api obor (lampu tradisional yang terbuat dari bambu dan di isi dengan minyak tanah dengan sumbu dari kain) menggantikan nyala lampu modern atau listrik di malam hari, serta di iringi kekompakan warga desa jipang dalam melakukan kegiatan rondan (patroli berjaga keliling desa), dengan Kamituwo atau Kepala Dusun yang di beri mandat untuk menyalakan lampu obor tersebut atas wewenang dari pemerintah desa setempat.
Sebagai perwujudan bentuk rasa syukur atas nikmat dari hasil bumi yang di peroleh masyarakat Desa Jipang, Tiga Gunungan hasil bumi (berisi berbagai macam buah-buahan hasil panen) dan Nasi Tumpeng di arak dari kediaman Kepala Desa Jipang menuju Makam Gedong Ageng, Makam Keramat Desa setempat pada pelaksanaan hari kedua
Grebeg Suro Desa Jipang.
Dengan menampilkan aneka Seni dan Budaya,
Grebeg Suro Desa Jipang di laksanakan sepanjang dua hari penuh atas inisiatif dari masyarakat dan sesepuh desa, dengan melibatkan Pegiat Budaya dari wilayah Kecamatan Cepu serta dari Keraton Surakarta yang memiliki keterkaitan serta sejarah dengan leluhur dari Kerajaan Jipang atau Kadipaten Jipang ini.
Sesi Rajut Mori atau penggantian kain putih yang melingkar pada Makam Aryo Jipang, yang di lakukan oleh para sesepuh serta orang-orang terpilih dari Kadipaten Jipang menjadi prosesi yang paling menarik penuh makna tinggi di tanah yang suci nan sakral, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur-leluhur serta menjaga kelestarian dan membangkitkan tradisi budaya desa tersebut.
Kemudian pada puncak acara di hari kedua Grebeg Suro Desa Jipang, Tiga Gunungan hasil bumi yang terdiri dari Dua Gunungan Utama dan Satu Gunungan Pendukung serta beberapa Nasi Tumbeng menjadi rebutan masyarakat Desa Jipang dan sekitarnya, tak hanya warga Desa Jipang, namun, masyarakat dari luar desa hingga luar kota cepu ikut meramaikan serta menikmati suasana kemeriahan tradisi budaya yang di gelar pada bulan suro setiap tahunnya.
Bukan hanya prosesi-prosesi adat, ritual, kirab pusaka, pagelaran seni dan budaya, pertunjukan tari dan wayang krucil, pameran pusaka serta bazar UMKM, menjadi rangkaian keramaian dalam festival budaya Grebeg Suro Desa Jipang, yang di suguhkan sepanjang dua hari dua malam di desa tersebut dengan unsur kegotong royongan dan kebersamaan, agar Desa Jipang atau Festival Budaya ini menjadi tujuan dari Destinasi Wisata kebanggaan milik masyarakat jipang khususnya.
Grebeg Suro Desa Jipang, memiliki daya tarik dan ikon kearifan lokal serta nilai sejarah yang di minati serta di nantikan oleh masyarakat sebagai kekayaan budaya yang patut untuk di jaga dan di lestarikan.
Baca Juga
Tags
EDUKATIPS